Tafsir QS At Takwir: Dahsyatnya Kiamat

Hakikatnya, kiamat sangatlah dahsyat.

Share :
Tafsir QS At Takwir: Dahsyatnya Kiamat
Artikel

Oleh: KH. Warso Winata, Lc. MA

 

KH. Warso Winata memberi gambaran mengerikan hari akhir melalui surat At-Takwir. Peristiwa tersebut dijelaskan dengan matahari digulung, bintang berjatuhan, dan gunung-gunung dihancurkan. Hal ini ditujukan kepada manusia agar sadar dirinya sangat kecil di hadapan-Nya.  Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

اِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْۖ,وَاِذَا النُّجُوْمُ انْكَدَرَتْۖ, وَاِذَا الْجِبَالُ سُيِّرَتْۖ

Artinya: “Apabila matahari digulung, apabila bintang-bintang berjatuhan,apabila gunung-gunung dihancurkan…”  (Q.S At-Takwīr [81]:1-3)

Hakikatnya, kiamat sangatlah dahsyat. Seperti Allah SWT tekankan berulang pada Firman-Nya:
 

وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا الْقَارِعَةُ ۗ

Artinya: “Tahukah kamu apakah al-Qāri‘ah itu?”  (Q.S Al-Qāri‘ah [101]:3)

“Allah menggambarkan kiamat ini dengan logika kita, namun secara hakikat kejadiannya pastinya lebih dahsyat. Mengapa Allah terus mengulang-ulang mengingatkan hari kiamat? Agar kita sedar betapa agungnya Allah dan betapa kecilnya bumi ini,” tegas KH. Warso Winata

Pada ayat selanjutnya, 

وَاِذَا الْعِشَارُ عُطِّلَتْۖ

Artinya: “apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak terurus) (Q.S At-Takwīr [81]:4)

Pada zaman Bangsa Arab terdahulu, hal yang paling berharga adalah unta yang bunting (melahirkan dan menghasilkan susu). Karena terlalu dahsyatnya, sehingga hal itu tidak berharga lagi.

وَاِذَا الْوُحُوْشُ حُشِرَتْۖ

Artinya: “apabila binatang-binatang liar dikumpulkan” (Q.S At-Takwīr [81]:5)

KH. Warso Winata mengatakan terdapat beberapa pendapat mengenai tafsir ayat ke-5. Bahwasanya pada hari kiamat yang dikumpulkan tidak hanya manusia, melainkan binatang buas.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَاِذَا الْبِحَارُ سُجِّرَتْۖ, وَاِذَا النُّفُوْسُ زُوِّجَتْۖ

Artinya: “apabila lautan dipanaskan, apabila roh-roh dipertemukan (dengan tubuh)...” (Q.S At-Takwīr [81]:6-7)

Lautan yang ada di bumi semuanya akan diluapkan oleh Allah SWT. Setelah bumi hancur, semuanya akan dibangkitkan oleh Allah SWT dan dipertemukan jiwa dan ruhnya untuk diadili beserta jasadnya. 

وَاِذَا الْمَوْءٗدَةُ سُىِٕلَتْۖ, بِاَيِّ ذَنْۢبٍ قُتِلَتْۚ

Artinya: “apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, “Karena dosa apa dia dibunuh,” (Q.S At-Takwīr [81]:8-9

“Membunuh keturunan sendiri adalah dosa yang sangat besar. Jika dulu orang jahiliyah mengubur bayi karena takut malu tentang anak perempuannya, sekarang ada yang melakukan aborsi. Itu adalah karakter jahiliyah yang ada di zaman modern,” jelas KH. Warso Winata

Hal ini sebagai pengingat untuk orang tua yang berani membunuh anaknya pada zaman jahiliyah dan zaman sekarang karena dosanya sangat besar. 

وَاِذَا الصُّحُفُ نُشِرَتْۖ

Artinya: “apabila lembaran-lembaran (catatan amal) telah dibuka lebar-lebar,” (Q.S At-Takwīr [81]:10)

Setelah dibangkitkan kembali, buku amalan manusia dibuka oleh oleh Allah SWT. Diperlihatkan catatan detail amalan kita di dunia yang telah dicatat oleh malaikat-malaikat.  Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَاِنَّ عَلَيْكُمْ لَحٰفِظِيْنَۙ, كِرَامًا كٰتِبِيْنَۙ, يَعْلَمُوْنَ مَا تَفْعَلُوْنَ

Artinya: “Sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) pengawas, yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (amal perbuatanmu), Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S Al-Infiṭār [82]:10-12)

Ayat At-Takwīr selanjutnya, 

وَاِذَا السَّمَاۤءُ كُشِطَتْۖ, وَاِذَا الْجَحِيْمُ سُعِّرَتْۖ, وَاِذَا الْجَنَّةُ اُزْلِفَتْۖ

Artinya: “apabila langit dilenyapkan, apabila (neraka) Jahim dinyalakan, dan apabila surga didekatkan, ” (Q.S At-Takwīr [81]:11-13)

Ayat tersebut menyebutkan kembali bagaimana Allah SWT akan menyalakan api neraka dan membawa orang yang shaleh ke dalam surga-Nya.

عَلِمَتْ نَفْسٌ مَّآ اَحْضَرَتْۗ

Artinya: “setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya.” (Q.S At-Takwīr [81]:14)

KH. Warso Winata menyampaikan bahwasanya ayat ini diartikan sebagai manusia yang banyak meninggalkan prioritas. Hal ini diartikan dalam kata “At-Takasur” yang berarti bermegah-megahan atau memperbanyak harta. 

فَلَآ اُقْسِمُ بِالْخُنَّسِۙ, الْجَوَارِ الْكُنَّسِۙ, وَالَّيْلِ اِذَا عَسْعَسَۙ, وَالصُّبْحِ اِذَا تَنَفَّسَۙ, 

Artinya: “Aku bersumpah demi bintang-bintang, yang beredar lagi terbenam, demi malam apabila telah larut,demi subuh apabila (fajar) telah menyingsing, ”  (Q.S At-Takwīr [81]:15-18)

Allah SWT selalu mengingatkan kita pada alam semesta agar kita selalu melihat keatas. Karena milyaran bintang yang terbentang, bumi ini hanya bagian kecil dalam skala galaksi. 

اِنَّهٗ لَقَوْلُ رَسُوْلٍ كَرِيْمٍۙ, ذِيْ قُوَّةٍ عِنْدَ ذِى الْعَرْشِ مَكِيْنٍۙ, مُّطَاعٍ ثَمَّ اَمِيْنٍۗ, وَمَا صَاحِبُكُمْ بِمَجْنُوْنٍۚ, وَلَقَدْ رَاٰهُ بِالْاُفُقِ الْمُبِيْنِۚ, وَمَا هُوَ عَلَى الْغَيْبِ بِضَنِيْنٍۚ, وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَيْطٰنٍ رَّجِيْمٍۚ

Artinya: “sesungguhnya (Al-Qur’an) itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril),  yang memiliki kekuatan dan kedudukan tinggi di sisi (Allah) yang memiliki ʻArasy, yang di sana (Jibril) ditaati lagi dipercaya. Temanmu (Nabi Muhammad) itu bukanlah orang gila. Sungguh, dia (Nabi Muhammad) benar-benar telah melihatnya (Jibril) di ufuk yang terang. Dia (Nabi Muhammad) bukanlah seorang yang kikir (enggan) untuk menerangkan yang gaib. (Al-Qur’an) itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk. (Q.S At-Takwīr [81]:19-25)

Pada ayat-ayat ini dikatakan bahwa firman Allah benar adanya disampaikan kepada Rasulullah SAW melalui utusan jibril. 

Allah SWT menggambarkan Rasulullah SAW terhadap Al-Qur’an yang dianggap buatan jin atau sihir oleh masyarakat jahiliyah. Oleh karena itu, diturunkannya ayat ini sebagai bukti utusan yang turun untuk Rasulullah SAW. 

Selanjutnya ayat-ayat akhir,

فَاَيْنَ تَذْهَبُوْنَۗ, اِنْ هُوَ اِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعٰلَمِيْنَۙ, لِمَنْ شَاۤءَ مِنْكُمْ اَنْ يَّسْتَقِيْمَۗ, وَمَا تَشَاۤءُوْنَ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ ࣖ

Artinya: “Maka, ke manakah kamu akan pergi? (Al-Qur’an) itu tidak lain, kecuali peringatan bagi semesta alam, (yaitu) bagi siapa di antaramu yang hendak menempuh jalan yang lurus. Kamu tidak dapat berkehendak, kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (Q.S At-Takwīr [81]:26-29)

Allah mengingatkan bahwa utusan yang disampaikan Nabi Muhammad SAW ini bukan dari syaiton atau jin. Serta, bahwasanya Al-Qur'an adalah Dzikrun lil ‘alamin (peringatan bagi seluruh alam).  

Kita menghabiskan seluruh energi, waktu, dan pikiran untuk mencari "kehidupan yang layak" (harta, jabatan, status), namun tidak pernah menyisihkan tenaga untuk mempersiapkan "kematian yang layak."

“Fa aina tadhabun? Kamu mau ke mana sebenarnya? Mau hidup kayak gini terus? Kita sudah tahu ujungnya ke mana, kita melihat saudara kita dikafani dan dikuburkan. Harta dan status yang kita bangga-banggakan akan habis. Kita lahir satu persatu, mati satu persatu, dan menghadap Allah pun satu persatu.”, pungkas KH. Warso Winata(TANZA/ Humas dan Media Masjid Istiqlal)


 

Tags :

Related Posts: