Hikmah: Shalawat Menyambut Ramadhan
“Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat” (QS. Al-Baqarah [2]: 201)
Oleh: Saparwadi Nuruddin Zain
Bulan Sya‘ban adalah ruang “tadarus jiwa” sebelum Ramadhan, jeda yang Allah SWT sediakan agar hati sempat berbenah, niat sempat diluruskan, dan ibadah sempat dipanaskan. Al-Qur’an memang tidak menyebut Sya‘ban secara eksplisit, tetapi ia menegakkan satu kaidah agung, orang beriman mesti mempersiapkan hari esok dengan kesadaran penuh. “Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)” (QS. Al-Hasyr/59: 18).
Karena itu, Sya‘ban adalah bulan muhasabah, menilai kembali adab, amanah, dan jejak amal kita, sebelum kita memasuki Ramadhan, bulan yang di dalamnya Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk dan pembeda. Ramadhan bukan sekadar perubahan jadwal makan dan tidur, ia adalah perubahan arah hidup. Puasa ditetapkan agar manusia naik kelas menjadi bertakwa. Maka, persiapan paling penting di Sya‘ban adalah menata ketakwaan: membersihkan hati dari lupa, menambal shalat yang bolong, dan menutup pintu-pintu dosa yang selama ini dibiarkan terbuka.
Di sinilah shalawat menemukan tempatnya sebagai amalan yang lembut namun menggetarkan. Allah SWT sendiri mengabarkan bahwa Dia dan para malaikat bershalawat kepada Nabi, lalu memerintahkan orang beriman melakukan hal yang sama (QS. Al-Ahzab/33: 56). Ini pesan yang halus tetapi tegas, bahwa shalawat bukan sekadar tradisi, melainkan ibadah yang menautkan bumi dengan langit. Ketika lisan bershalawat, hati sejatinya sedang belajar mencintai, dan cinta yang benar selalu melahirkan adab dan kesungguhan mengikuti jalan kebaikan.
Hadits yang dinukil dari Abu Darda’ yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, dimana Rasulullah SAW juga mengarahkan umat agar memperbanyak shalawat pada hari Jumat karena shalawat itu “disaksikan” malaikat, dan shalawat yang dibaca akan disampaikan kepada beliau hingga pembacanya selesai. Pesannya jelas, bahwa shalawat adalah dzikir yang hadir, ia tidak melayang tanpa makna, tetapi disaksikan dan diantarkan dengan amanah para malaikat.
Lebih jauh, hadits yang sama menegaskan satu kemuliaan para Nabi ‘alaihimussalam, Allah SWT mengharamkan bumi memakan jasad para Nabi. Ini bukan sekadar informasi gaib, melainkan pelajaran adab, para Nabi adalah manusia pilihan yang hidupnya diabdikan sepenuhnya untuk Allah SWT, maka kemuliaan mereka dijaga oleh Allah SWT dengan penjagaan yang sesuai keagungan risalahnya. Bahkan, dalam tradisi hadits juga dikenal kabar bahwa para Nabi ‘alaihimussalam diberi kehidupan khusus di alam kubur dan mereka beribadah. Rasulullah SAW bersabda bahwa pada malam Isra’, beliau melewati Nabi Musa ‘alaihissalam “sedang shalat di kuburnya” dekat “gundukan merah.” Dari sini kita paham, bahwa kehidupan para Nabi ‘alaihimussalam bukanlah kisah masa lalu yang mati. Ia hidup, dalam teladan, dalam doa, dalam cahaya shalawat, dan dalam spirit ibadah yang tidak padam. Maka Sya‘ban menjadi undangan untuk menyalakan kembali lampu batin: memperbanyak dzikir dan tasbih, sebagaimana perintah Allah agar mengingat-Nya sebanyak-banyaknya (QS. Al-Ahzab/33: 41–42).
Lalu mengapa shalawat dan istighfar relevan dengan kegelisahan zaman, termasuk bencana ekologi yang kita saksikan? Karena Al-Qur’an mengajari bahwa taubat dan memohon ampun bukan hanya membersihkan batin, tetapi juga membuka pintu keberkahan: “Mohonlah ampunan… lalu bertaubat… niscaya Dia menurunkan hujan yang deras (penuh berkah)” (QS. Hūd/11: 52). Di tengah cuaca yang tak menentu, banjir, kekeringan, dan luka alam di banyak tempat, shalawat dan istighfar menjadi bahasa kerendahan hati, pengakuan bahwa manusia sering lalai terhadap amanah bumi, dan hanya rahmat Allah yang mampu mengubah musibah menjadi pelajaran serta hujan menjadi berkah.
Akhirnya, kita mohon kepada Allah sebagaimana doa yang ringkas namun memuat seluruh harapan: “Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat” (QS. Al-Baqarah [2]: 201). Kebaikan dunia termasuk alam yang selamat, hujan yang menyejukkan, dan masyarakat yang rukun. Kebaikan akhirat adalah Ramadhan yang mengubah kita: lebih jujur, lebih lembut, lebih amanah. Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm. Allāhumma ṣalli ‘alā Sayyidinā Muḥammad, wa ‘alā āli Sayyidinā Muḥammad. Wallahu a’lam.

Indonesia
Arabic


