Kajian Zuhur Istiqlal: Simfoni Balagah, Menggali Isyarat Kemukjizatan dalam Struktur Al-Qur'an

Al-Qur'an menunjukkan kesempurnaannya, namun juga mengisyaratkan argumentasi bahwa Al-Qur'an berbeda dari kitab-kitab yang lain.

Share :
Kajian Zuhur Istiqlal: Simfoni Balagah, Menggali Isyarat Kemukjizatan dalam Struktur Al-Qur'an
Artikel

Dr. KH. Mahkamah Mahdin, Lc., MA. 
Isyaratul Ijaz Fi Mazhan Al-Ijaz karya Syekh Badiuzzaman Said Nursi.

Kajian Kitab Isyaratul Ijaz fi Mazhan Al-I’jaz: Isyarat isyarat kemukjizatan. dalam struktur bahasa Al-Qur'an yang begitu singkat tapi padat maknanya. Membahas tafsir: 

ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَۛ فِيْهِۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَۙ

Bismillahirrahmanirrahim, mukadimah:

إنَّ مِنْ أَسَاسِ الْبَلَاغَةِ الَّذِي بِهِ يَبْرُو حُسْنُ الْكَلَامِ: تَجَاوُبُ الْخَائِطِ الَّذِي عَلَى الْمَقْصَدِ الْأَصْلِيِّ، وَإِمْدَادُ كُلٍّ بِقَدْرِ طَاقَتِهِ لِلْمَقْصَدِ.

Ketahuilah bahwa salah satu pondasi retorika ilmu balagah ya yang membuat keindahan tutur kata itu menjadi berkilau ya adalah tajawubul haiat: adanya bentuk-bentuk ungkapan yang saling menyesuaikan, ikatan-ikatan makna yang saling menarik dan saling menopang menuju sebuah tujuan pokok. Masing-masing memberi dukungan makna sesuai dengan kadarnya terhadap tujuan tersebut. 

الَّذِي هُوَ أَجْمَلُ آتٍ، الْمُتَشَرِّبُ مِنَ الْجَوَانِبِ؛ بِأَنْ تَكُونَ مِصْدَاقًا تِمْثَالًا لِمَا عِبَارَتُنَا: حُسْنُكَ وَاحِدٌ وَالْجَمَالُ يُشِيرُ

Tujuan ini diibaratkan laksana tempat berhimpunnya aliran-aliran air atau kolam yang menyerap air dari segala sisi. Sehingga dengan cara itu ungkapan-ungkapan tersebut menjadi pembenar, menjadi perwujudan dari ungkapan sebuah syair: ungkapan-ungkapannya beragam, namun keindahannya satu. Kesemuanya menunjuk pada keindahan tersebut.

Di sini beliau akan memberikan contoh ya sebelum masuk dalam menjelaskan bagaimana dzalalika al-kitabu la raiba fihi hudan lil muttaqin. Sebagai mari cermati sebuah ayat:

...نَفَتُ حُسْنَ كِنَايَةِ "يَا وَيْلَنَا إِنَّا كُنَّا ظَالِمِينَ" لَيَقُولَنَّ: يَا وَيْلَنَا إِنَّا كُنَّا نَائِمِينَ

Ayat ini menggambarkan bagaimana pedihnya azab neraka. Bagaimana hanya sedikit dari azab neraka membuat manusia tidak akan sanggup menahannya, ayat ini ingin menggambarkan itu. Kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, ”sungguh jika mereka disentuh oleh sedikit saja hembusannya, angin-anginnya, bukan terkena oleh apa apinya, mereka akan berkata, "Celakalah kami. Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim."

"...الْمَسُوقَةِ لِتَهْوِيلِ الْمُسْتَفَادِ مِنَ التَّقْلِيلِ بِسِرِّ ذَلِكَ التَّقْلِيلِ..."

Untuk menggambarkan dahsyatnya azab neraka. Tujuan penggunaan ungkapan kata ini    "menghebatkan" atau memberikan efek dahsyat (tahwil) yang dipetik dari makna "sedikit" (taqlil). 

Dapat dilihat beberapa hal yang menunjukkan sedikit:

1. Bagaimana menunjukkan sedikitnya saja azab neraka dahsyatnya luar biasa. Dalam bahasa Arab ada beberapa ungkapan kata yang digunakan untuk kalimat in, seperti idza. In digunakan untuk sesuatu yang kemungkinan besar tidak terjadi. Ya, misalnya kalau dalam bahasa Arab   إِنْ جِئْتَنِيْ أُكْرِمْكَ,  in ji`tani ukrimka, kalau kamu datang saya akan memberikan penghargaan, maksudnya kalaupun kamu datang. Namun bila ingin menggambarkan bahwa jika kamu benar-benar akan datang maka digunakan, إِذَا جِئْتَنِيْ أُكْرِمُكَ idza ji`tani ukrimuka. In disini menunjukkan sangat sedikit.

2. Penggunaan kata مَسَّ (Massa), berarti sentuhan sebagai ganti الْإِصَابَةِ (al-isabah), berarti menimpa mengenai juga mengisyaratkan sedikit, hanya hembusannya saja, hanya angin-anginnya saja. 

وَلَئِنْ مَّسَّتْهُمْ نَفْحَةٌ مِّنْ عَذَابِ رَبِّكَ لَيَقُولُنَّ يَا وَيْلَنَا إِنَّا كُنَّا ظَالِمِينَ 

"Dan jika mereka ditimpa sedikit saja azab Tuhanmu, pastilah mereka berkata, 'Celakalah kami! Sesungguhnya kami termasuk orang yang selalu menzalimi (diri sendiri).'"

3. Kata nafhatun, dalam bahasa Arab menggunakan yang disebut dengan mashdar marrah,  menunjukkan bahwa hanya satu kali menunjukkan sedikit. Penggunaan mashdar marrah kemudian ada tanwin yang mengisyaratkan qillah, sedikit.

4. Min. Diantara fungsi huruf jar mim adalah al-ba'd, menunjukkan sebagian  Contoh hadza min talamidina ini adalah sebagian ya. Karena min juga punya banyak fungsi ya bisa menjelaskan ee penyebab ya atau ee apa namanya struktur aslinya. Hadza khatamun min fidah ya. Misalnya ini adalah cincin dari perak ya. Ya. Jadi dari menunjukkan minnya menunjukkan bahannya. Ah, jadi alba'diyah ya ya yang dalam minunkan hal itu.

5. Allah menggunakan kata Jadi tidak mengatakan nakal. Jadi tingkatan siksaan ada adzab ada nakal. Nakal benar-benar siksaan yang setimpal. Adzab jauh di bawahnya. Penggunaan kata adzab menunjukkan sedikit. Berbeda dengan nakal seperti dalam ayat-ayat lain. 

6.  Penggunaan kata Rabb. Semacam tetap ada kasih sayang Allah Subhanahu wa ta’ala. Meskipun dimasukkan dalam api neraka tetap ada unsur syafaqah: kasih sayang dari Allah. Rabb artinya Pemelihara, berarti ada kasih sayang.

Enam bagian ini menunjukkan bahwa bagaimana dahsyatnya api neraka, walaupun hanya sedikit sudah membuat manusia merasakan dahsyatnya semua azab. Silakan dibandingkan dengan ayat-ayat lain dalam Al-Qur'an.

Sebagai yang lebih khusus lagi di sini dalam konteks alif lam mim dzalika al-kitabu la raiba fihi hudan li al-muttaqin. Tujuan ayat ini adalah untuk memuji Al-Qur'an dan menunjukkan membuktikan kesempurnaan Al-Qur'an. Dalam contoh tadi, digambarkan bagaimana bagian-bagian dari struktur kalimat ini saling menguatkan untuk membuktikan makna dan tujuan tadi. Beberapa unsur saling merespon, saling terkait untuk mewujudkan tujuan ini. 

1. Al-qasam fi alif lam mim ala wajhin. Menurut sebuah pendapat alif lam mim adalah sumpah. Menegaskan bahwa Al-Qur'an betul-betul ya sempurna, betul-betul petunjuk bagi umat manusia.  

2. Menggunakan kata kata isyarat kata tunjuk dzalika untuk sesuatu yang jauh dan tinggi. Digambarkan dengan sebuah hal yang konkret, bukan sesuatu hal yang tidak yang tidak jelas. 

3. Alif wa lam fil kitab. Adanya alif lam. Penggunaan alif lam. Kemudian dasar penegasan tersebut yaitu menggunakan ungkapan la raiba fihi.

Kesemua bagian-bagian itu menyuplai tujuan untuk menunjukkan kesempurnaan Al-Qur'an. Masing-masing dari makna yang dimilikinya itu menunjukkan hal tersebut.

1. Karena dia adalah sumpah pertama dia akan menegaskan

2. Adalah juga memberi kesan at-tazim, pengagungan yang mengarahkan kepada perintah untuk melakukan refleksi, melakukan pengkajian, penelitian yang selanjutnya mengantarkan untuk tersingkapnya makna-makna yang begitu dalam untuk menjadi argumen atas klaim bahwa Al-Qur'an sempurna.

Isyarat ini kembali ke mana?

1. Kembali kepada apa yang menjadi objek sumpah. 
2. Apa yang sudah dikabarkan dalam Taurat dan Injil juga mengisyaratkan dalilnya. Alangkah agungnya sesuatu yang disumpahkan.

Coba perhatikan dalam isyarat kata tunjuk tadi dzalika yang sangat konkret, mengisyaratkan sebuah hal yang sangat rasional. Sebagaimana hal ini menunjukkan pengagungan dan pentingnya Al-Qur'an. Juga mengisyaratkan bahwa Al-Qur'an seperti magnet yang menarik pikiran manusia, dimana perhatian manusia itu tertarik ke sana. Yang memaksa imajinasi manusia untuk terus mengkaji Al-Qur'an. 

Bisa dilihat oleh mata dari balik tabir, jika memanfaatkan imajinasinya. Memberikan isyarat bahwa dengan adanya kepercayaan mengenai kebenaran Al-Qur'an dan kebebasannya dari kelemahan. tTdak ada kelemahan yang dimiliki oleh Al-Qur'an. Kata tunjuk jauh memberikan menunjukkan ketinggian derajat.  

Al-Qur'an menunjukkan kesempurnaannya, namun juga mengisyaratkan argumentasi bahwa Al-Qur'an berbeda dari kitab-kitab yang lain. Kemungkinannya  hanyaa dua. Apakah berada di bawah semuanya dan itu tidak mungkin terjadi. Atau yang paling benar, berdasarkan kesepakatan bahwa Al-Qur'an itu berada di atas semuanya.

Tags :

Related Posts: