Menggapai Ridha Allah SWT di bulan Syaban: Keutamaan dan Panduan Shalat Witir
Adapun jumlah rakaat shalat witir Paling sedikit adalah satu rakaat, sedangkan maksimal sebelas rakaat, dengan bilangan ganjil.
KH. Ahmad Dzulfatah Yasin
Bulan Sya’ban merupakan momen penting bagi umat Islam untuk mempersiapkan diri menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Dalam Kajian Dialog Dzuhur yang disampaikan oleh Drs. KH. Ahmad Dzulfatah Yasin, M. Ag, kali ini mengangkat keutamaan dan tuntunan Shalat Witir, khususnya dalam rangka menyambut bulan Sya'ban dan persiapan menuju Ramadhan.
Dalam Penjelasannya, KH. Ahmad Dzulfatah Yasin menekankan pentingnya memanfaatkan waktu hidup sebaik-baiknya. Setiap detik, menit, dan hari merupakan kesempatan untuk menambah amal kebaikan demi meraih ridha Allah SWT. Bulan Sya'ban merupakan bulan yang sering terlupakan karena berada di antara dua bulan mulia, yakni Rajab dan Ramadhan.
Sya'ban dijuluki oleh Rasulullah sebagai bulan yang sering dilalaikan. Karena itu, Rasulullah alaihi wasallam memperbanyak puasa di bulan Sya’ban. Bagi umat Islam, khususnya kaum wanita, bulan Sya'ban juga merupakan kesempatan terakhir untuk membayar (qada) hutang puasa Ramadhan tahun sebelumnya.
Hakikat dan Keutamaan Shalat Witir
KH. Ahmad Dzulfatah menekankan bahwa shalat witir merupakan salah satu shalat sunah yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan secara istiqamah. Rasulullah SAW bersabda
“Sesungguhnya Allah itu ganjil (witir) dan menyukai yang ganjil” (HR. Abu Dawud & Tirmidzi).
Menurutnya, witir bukan sekadar bilangan ganjil dalam shalat, tetapi mengandung pesan tauhid, yaitu mengesakan keesaan Allah SWT dalam zat, sifat, dan perbuatan-Nya.
Tuntunan Pelaksanaan Shalat Witir
Dalam kajiannya, beliau juga menjelaskan perbedaan pendapat ulama terkait hukum shalat witir. Mazhab Hanafi mewajibkan shalat witir, sementara jumhur ulama Mazhab Maliki, Syafi’i, dan Hanbali menetapkannya sebagai sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan).
Adapun jumlah rakaat shalat witir Paling sedikit adalah satu rakaat, sedangkan maksimal sebelas rakaat, dengan bilangan ganjil. Namun, umat Islam dianjurkan untuk tidak hanya mengerjakan satu rakaat, melainkan minimal tiga rakaat.
“Semakin banyak rakaat witir yang dikerjakan dengan khusyuk, maka semakin besar pula nilai keutamaannya,” ujar KH. Ahmad Dzulfatah.
Bacaan dan Waktu Utama Shalat Witir
KH. Ahmad Dzulfatah menjelaskan bahwa bagi yang mengerjakan witir tiga rakaat, disunahkan membaca:
- Rakaat pertama: Surah Al-A‘la
- Rakaat kedua: Surah Al-Kafirun
- Rakaat ketiga: Surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas
Waktu terbaik melaksanakan shalat witir adalah di akhir malam sebelum Subuh, khususnya bagi mereka yang terbiasa bangun untuk qiyamul lail. Namun, bagi yang khawatir tidak terbangun, disarankan untuk mengerjakan witir setelah shalat Isya.
“Yang terpenting adalah menjaga salat fardu tetap utama, dan menjadikan salat sunah sebagai penyempurna ibadah kita,” tegasnya.
Ramadhan bukanlah bulan latihan, melainkan bulan pembuktian. Latihannya dimulai dari sekarang, di bulan Rajab dan Sya’ban, melalui perbaikan bacaan Al-Quran, sedekah, dan konsistensi dalam shalat sunnah. (VISCHA/ HUMAS dan Media Masjid Istiqlal)

Indonesia
Arabic


