Kajian Qabla Jumat: Berkompetisi dalam Kebajikan, Jalan Menuju Ampunan dan Surga
Dr. Syahrullah menegaskan bahwa tujuan utama seorang muslim bukanlah mencari ridha manusia, karena ridha manusia tidak akan pernah tercapai sepenuhnya.
Dalam kajian umum keislaman Jumat yang dilaksanakan pada Jumat, 20 Rajab 1447 Hijriah bertepatan dengan 9 Januari 2026 Masehi, Dr. Syahrullah Iskandar, M.A. Mengurai sebuah topik pembahasan tentang berlomba-lomba dalam hal kebajikan. Kajian pertemuan ke-25 ini mengajak jemaah untuk kembali menata prioritas hidup dengan menjadikan kebajikan sebagai tujuan utama, bukan sekadar pelengkap aktivitas duniawi.
Mengawali pemaparannya, Dr. Syahrullah mengutip Kitab Akhlakul Qur’an karya Syekh Ahmad Syorbasi (jilid II, halaman 113) yang menegaskan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan hamba-Nya untuk bersegera dan berlomba-lomba dalam meraih pintu-pintu kemenangan dan keselamatan. Perintah ini bukan sekadar ajakan moral, tetapi merupakan prinsip dasar dalam membangun orientasi hidup seorang mukmin.
Perintah tersebut ditegaskan langsung dalam Al-Qur’an melalui firman Allah dalam Surah Ali Imran ayat 133:
وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
Artinya: “Bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa,” (Qs. Ali Imran: 133).
Ayat ini menegaskan bahwa kehidupan dunia bukanlah tujuan akhir. Manusia berada dalam rangkaian fase kehidupan, mulai dari alam ruh, alam rahim, alam dunia, alam barzakh, hingga kehidupan akhirat. Kehidupan akhiratlah yang disebut sebagai kehidupan yang sesungguhnya, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an. Oleh karena itu, segala aktivitas dunia hendaknya diarahkan sebagai bekal menuju kehidupan akhirat.
Dalam kajian tersebut dijelaskan bahwa bersegera menuju ampunan dan surga berarti mempercepat diri dalam melakukan sebab-sebab yang mengantarkan ke sana. Di antaranya adalah memperbanyak taubat dan istighfar. Manusia bukanlah makhluk yang maksum, sehingga kesalahan dan kekhilafan tidak terelakkan. Bahkan Rasulullah SAW yang dijaga dari dosa pun beristighfar lebih dari seratus kali dalam sehari. Taubat menjadi pintu awal penyucian diri, sebelum kemudian diarahkan untuk memperbanyak amal kebajikan.
Kebajikan sendiri memiliki cakupan yang luas. Ia bisa berupa amal personal, seperti ibadah dan perbaikan akhlak, maupun amal sosial yang berdampak pada sesama manusia dan lingkungan. Memberi bantuan kepada yang membutuhkan, menjaga lisan agar tidak menyakiti orang lain, hingga tidak mengganggu sesama, semuanya termasuk bentuk kebajikan.
Dalam hal ini, Al-Qur’an menegaskan bahwa kebaikan memiliki kekuatan untuk menghapus keburukan:
إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ
Artinya:“Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu menghapus keburukan-keburukan.” (QS. Hud: 114)
Allah SWT, dengan kemurahan-Nya, menjadikan jalan kebaikan lebih mudah dibandingkan jalan keburukan. Setiap keburukan yang dilakukan manusia kerap disertai kegelisahan batin, sementara kebaikan selalu menghadirkan ketenangan. Oleh karena itu, manusia didorong untuk mempercepat langkah dalam kebaikan sebelum kesempatan itu tertutup oleh waktu dan keadaan.
Rasulullah SAW juga menegaskan prinsip ini dalam berbagai hadis, di antaranya anjuran untuk bersegera dalam amal saleh dan sedekah. Praktik berlomba dalam kebajikan ini tercermin nyata dalam kehidupan para sahabat, seperti persaingan penuh keikhlasan antara Umar bin Khattab dan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Kisah Abu Bakar yang diam-diam membantu seorang nenek tunanetra tanpa memperkenalkan diri menunjukkan bahwa kompetisi dalam kebaikan tidak dilandasi riya atau kesombongan, melainkan keikhlasan murni karena Allah.
Al-Qur’an juga secara eksplisit memerintahkan umat Islam untuk berlomba-lomba dalam kebaikan melalui firman-Nya:
فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ
Artinya: “Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan.” (QS. Al-Baqarah: 148)
Kata khair dalam ayat tersebut bersifat universal, mencakup segala bentuk kebaikan yang benar, baik, dan pantas. Dalam kajian ini ditekankan bahwa sebuah perbuatan baru layak mendapatkan pujian jika mengandung tiga unsur: kebenaran, kebaikan, dan kepantasan. Ketiganya menjadi tolok ukur utama dalam menilai amal perbuatan seorang mukmin.
Prinsip bersegera dalam kebaikan juga ditegaskan dalam Surah Al-Hadid ayat 21:
سَابِقُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
Artinya: “Berlomba-lombalah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seperti luas langit dan bumi.” (QS. Al-Hadid:21).
Ayat ini kembali menegaskan bahwa surga telah disiapkan bagi orang-orang bertakwa, dan tugas manusia adalah berusaha meraihnya melalui kebajikan yang proporsional dan berimbang. Takwa tidak hanya diwujudkan dalam ritual ibadah, tetapi juga dalam relasi sosial, kepedulian terhadap lingkungan, keseimbangan terhadap diri sendiri, serta kedekatan kepada Allah Ta’ala sebagai Sang Pencipta.
Menutup kajian, Dr. Syahrullah menegaskan bahwa tujuan utama seorang muslim bukanlah mencari ridha manusia, karena ridha manusia tidak akan pernah tercapai sepenuhnya. Yang menjadi orientasi utama adalah ridha Allah SWT. Selama suatu perbuatan benar, baik, dan pantas, maka penilaian manusia tidak lagi menjadi beban. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
Artinya: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(VISCHA/ HUMAS dan Media Masjid Istiqlal)

Indonesia
Arabic

_(1).jpg)



