Hikmah: Ramadhan dan Musibah yang Menimpa Umat Islam
Sheikh Ahmed Hussein, ulama Al-Azhar, mengatakan bahwa cobaan merupakan salah satu hukum Allah SWT di alam semesta yang tidak akan pernah berubah dan manusia diuji dalam kehidupan dunia ini, terkadang dengan kebaikan dan terkadang dengan keburukan.
Oleh : KH. Bukhori Sail Attahiri, Lc., MA
Jakarta, www.istiqlal.or.id - Puji syukur Alhamdulillah kita panjatkan ke hadiarat Allah swt, atas segala kenikmatan yang telah dikaruniakan kepada kita. Dan kenikmatan yang paling istimewa saat ini adalah kenikmatan sampai pada bulan Ramadan. Semoga kita dapat mengoptimalkan kesempatan sebulan penuh ini dengan ibadah-ibadah yang telah diperintahkan kepada kita. Amien.
Namun di sela-sela kenikmatan ini, ternyata Allah swt juga turunkan musibah kepada sebagian saudara-saudara kita berupa banjir yang tentu menelan kerugian materi yang tidak sedikit.
Sebagian kita mungkin bertanya kenapa di saat kaum muslimin menjalani ibadah puasa Ramadan ini diturunkan musibah banjir ? adakah ini satu bentuk keadilan Allah swt ?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut mari kita simak penjelasan berikut ini.
قال الله تعالى: «وَلَقَدْ أَرْسَلنَآ إِلَى أُمَمٍ مِّن قَبْلِكَ فَأَخَذْنَاهُمْ بِالْبَأْسَاء وَالضَّرَّاء لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ» (الأنعام: 42)".
firman Allah SWT: “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa umat sebelum kamu, lalu Kami timpakan kepada mereka kemiskinan dan kesusahan, agar mereka dapat merendahkan diri.” (QS. Al-An’am: 42)
jika suatu musibah menimpa orang yang saleh setelah ketaatan yang dilakukannya, maka itu adalah musibah kebaikan agar Allah SWT mengangkat derajat dan kedudukannya di surga. Adapun musibah keburukan, menimpa seseorang setelah dosa yang dilakukannya, dan bisa jadi itu adalah sebagai penebus dosa tersebut hingga pelakunya bertaubat kepada Allah SWT dan memohon ampunan, sehingga Sang Pencipta yang Maha Kuasa menghapus dosa yang telah dilakukannya.
Musibah dan cobaan ada dua sebab yang yang berkaitan, selain memang kehendak Allah SWT dalam dan ketetapan-Nya: Sebab pertama: dosa-dosa dan pelanggaran yang diperbuat seseorang, baik kekufuran, pelanggaran biasa, maupun dosa besar, maka Allah SWT menimpakan musibah kepada pemiliknya sebagai balasan dan hukuman yang segera, “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.” (QS. An-Nisa’: 79). Sebab kedua: Allah SWT menghendaki untuk mengangkat derajat orang mukmin yang sabar, maka Dia menimpakan musibah kepadanya agar ia merasa cukup dan sabar, dan ia akan diberi pahala orang yang sabar di akhirat nanti, dan ia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang-orang yang menang. Musibah atau ujian itu menyertai para Nabi dan orang-orang saleh. Allah SWT menjadikannya sebagai kemuliaan bagi mereka yang dengannya mereka akan meraih derajat yang tinggi di surga. Oleh karena itu, disebutkan dalam hadits shahih Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
«إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا سَبَقَتْ لَهُ مِنْ اللهِ مَنْزِلَةٌ لَمْ يَبْلُغْهَا بِعَمَلِهِ ابْتَلَاهُ اللَّهُ فِي جَسَدِهِ أَوْ فِي مَالِهِ أَوْ فِي وَلَدِهِ»
”Jika seorang hamba telah dianugerahi suatu derajat dari Allah yang tidak diperolehnya melalui amalnya, maka Allah menimpakannya pada tubuhnya, hartanya, atau anak-anaknya”.
Bagaimana orang yang tertimpa musibah dapat mengetahui apakah musibah yang menimpanya merupakan hukuman atau ujian untuk menaikkan derajatnya?
Sheikh Ahmed Hussein, ulama Al-Azhar, mengatakan bahwa cobaan merupakan salah satu hukum Allah SWT di alam semesta yang tidak akan pernah berubah dan manusia diuji dalam kehidupan dunia ini, terkadang dengan kebaikan dan terkadang dengan keburukan.
Allah SWT dapat menguji seseorang dengan sesuatu yang tampak buruk padahal sebenarnya sangat baik, atau mungkin juga sebaliknya. Allah SWT berfirman: “Boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).
Allah SWT menguji hamba-hamba-Nya dengan kemudahan dan kesulitan, dengan kesulitan dan kemudahan, dan mungkin Allah swt menguji mereka dengan mereka untuk mengangkat derajat mereka, dan melipatgandakan amal saleh mereka, sebagaimana yang Allah swt lakukan terhadap para nabi dan rasul saw, dan hamba-hamba Allah yang saleh, sebagaimana Ibnu Majah (4023) meriwayatkan dari Mus`ab bin Sa`d, dari ayahnya berkata: “Saya bertanya: Ya Rasulullah, siapakah orang-orang yang paling berat ujiannya?” Dia berkata: “Para nabi, kemudian yang paling baik, kemudian yang paling baik. Jadi seseorang diuji sesuai dengan agamanya. Jika agamanya kokoh, ujiannya akan berat.” Ujian itu tidak berhenti pada seorang hamba hingga ia meninggalkannya berjalan di bumi tanpa dosa sedikit pun. (BSA)

Indonesia
Arabic

